Deng Haoran menunduk sejenak, menenangkan pikirannya sebelum melanjutkan. "Alchemist itu karena penasaran, dia memilih kembali ke desa aneh tersebut. Saat mendekati Desa, dia bersikap lebih berhati-hati mengingat bahaya yang bisa di timbulkan mahluk itu. Tiba-tiba dari kejauhan ia merasa melihat halusinasi, lima wanita berpakaian aneh berwarna hitam menghilang dengan cara yang tak pernah ia saksikan sebelumnya. Ketika tiba, semua penduduk telah lenyap. Tak ada jejak manusia atau binatang. Desa itu seakan kosong, seolah tak pernah dihuni dan dia tidak menemukan lagi jejak pemangsa Yin."

Suasana laboratorium mendadak hening, bahkan suara mesin yang biasanya berdengung terdengar menekan lebih dalam.

"Ini sebabnya," lanjut Deng Haoran pelan, menekankan setiap kata dengan berat, "ceritanya tak dipercaya karena tak ada yang pernah bisa membuktikan keberadaan mahluk itu. Tapi setelah melihat ini, aku jadi teringat kisah itu dengan jelas."

Lala menatap Nenek Drona, matanya menyala penuh rasa penasaran. "Lima wanita? Mungkinkah Mira?"

"Kita harus segera memberi tahu kepala suku," kata Nenek Drona, suaranya menegang.

"Siapa Mira?" tanya Deng Haoran, raut wajahnya penuh tanya.

"Orang yang melakukan semua ini terhadap mereka," kata Lala dengan mata menyala marah, nada suaranya bergetar sedikit karena emosi yang menahan amarah. Ia ingin segera memberi tahu Lynx, namun saat ini Lynx sedang melakukan pemeriksaan bersama prajurit kerajaan Rihua saat mengetahui laporan banyak penduduk ditemukan menghilang, terutama di desa-desa terpencil yang terpencil dan rawan bahaya.

"Tuan Deng, mungkinkah jika inangnya mati, maka makhluk itu akan keluar?" tanya Lala, matanya menatap lurus ke layar monitor, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja seakan mencoba menyingkap jawaban dari kedalaman pikirannya.

Deng Haoran terdiam sejenak, sorot matanya berubah serius. "Bisa jadi," jawabnya perlahan, nada suaranya mengandung keraguan. "Tapi tidak bisa dianggap menolong mereka jika kita membiarkan mereka mati hanya untuk mengeluarkan makhluk itu. Selain itu, ini hanya perkiraan. Belum tentu makhluk itu benar-benar ada."

"Mungkin," Lala bersuara lagi, kali ini lebih lirih, seakan bicara pada dirinya sendiri, "kita bisa mencobanya… jika bisa membuat mereka mati suri. Seolah-olah mereka mati… lalu memancing makhluk itu keluar?"

"Mustahil, Lala!" potong Nenek Drona cepat, suaranya terdengar cemas dan tegas. "Itu terlalu berisiko. Bagaimana jika gagal? Bagaimana cara kita menghidupkan orang mati kembali?" Raut wajahnya menegang, keriputnya semakin dalam menandakan beban kekhawatiran yang berat.

Namun Lala tidak menjawab. Ia terdiam, matanya kosong namun tajam, seolah pikirannya telah masuk ke ruang lain yang hanya bisa dijelajahi oleh logikanya sendiri. Mode serius yang hanya dimiliki Lala kini muncul. Seluruh tubuhnya seakan kehilangan jiwa, hanya menyisakan wadah yang fokus pada satu hal, mencari jawaban.

Nenek Drona hanya bisa menggeleng, menarik napas panjang. Ia tahu tanda itu. Bila Lala sudah dalam keadaan seperti ini, percuma diajak berbicara hal lain. Gadis itu tidak akan mendengar, tidak akan merespon, hanya menyelam semakin dalam ke dalam pikirannya.

"Baiklah," Deng Haoran menutup buku catatannya. "Kita biarkan dia berpikir. Saat ini, yang paling penting adalah memberi tahu tuan Xiao secepatnya. Semoga dia segera kembali."

Deng Haoran mendesah panjang. Dia dan penduduk lainnya sudah mengetahui mengenai nama lain Xiao Ling dan Ling Mei yaitu Lynx dan Leena, namun mereka masih belum terbiasa dan tetap memanggil dengan tuan dan nyonya Xiao.

Mereka semua, Deng Haoran, Nenek Drona, dan beberapa penduduk dari desa Linxi perlahan meninggalkan laboratorium, membiarkan Lala tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Setelah keluar dari gerbang dimensi dunia kecil, Deng Haoran langsung pergi meninggalkan desa Surya dan kembali ke Desa Linxi. Mereka tidak bisa bepergian terlalu lama untuk menghindari kecurigaan alchemist lain yang bukan penduduk asli desa Linxi dan tidak mengetahui tentang kerjasama di antara mereka.

Sementara itu, di ruang pertemuan desa Surya, Para tetua yang berkumpul terlihat wajah mereka dipenuhi kegelisahan. Aura serius menggantung tebal di udara. Mereka sudah mendengar cerita dari nenek Drona yang datang menemui mereka setelah keluar dari dunia kecil. Nenek Drona memutuskan segera mendatangi mereka semua yang biasa berkumpul di ruang pertemuan Desa Surya untuk menceritakan hasil analisa mereka dan niat Lala untuk memancing Pemangsa Yin keluar dari tubuh inangnya.

"Berita ini terlalu penting," ucap Tetua Rasyid, menatap yang lain dengan pandangan mantap. "Kita harus segera memanggil Kepala Suku. Hanya dia yang bisa mengambil keputusan. Kita tidak bisa menundanya, karena hanya ini petunjuk yang kita punya."

Tetua lain mengangguk setuju, beberapa bahkan mengetuk meja menandakan dukungan. "Benar. Jika makhluk yang disebut Pemangsa Yin itu nyata dan juga mengenai lima wanita itu jika benar adalah Mira, Kepala Suku bisa memeriksa ke tempat itu untuk mendapatkan petunjuk."

Setelah keputusan bulat diambil. Salah satu tetua mengeluarkan kertas formasi yang ditinggalkan Lynx sebelum ia pergi.

***

Di salah satu Hutan wilayah kerajaan Rihua, Lynx, Leena, Jelita dan pasukan dari kerajaan memeriksa jejak pertempuran yang sudah lama terjadi. Saat menyelidiki kasus hilangnya para penduduk, komandan Fan mendapat petunjuk mengenai rombongan keluarga besar pedagang yang hilang tanpa jejak sehingga mereka pergi memeriksanya.

"Nonya Xiao, silahkan! Anda bisa istirahat terlebih dahulu di dalam tenda. Makanan sudah di siapkan untuk anda nikmati." Komandan Fan yang menyukai Leena sejak awal bertemu di desa Linxi selalu berusaha mengambil hatinya. Dia memerintahkan para prajurit untuk mendirikan tenda dan menyiapkan hidangan untuk membuat Leena merasakan perhatiannya.

"Aku lebih baik dari suaminya. Kultivasiku lebih tinggal, selain itu aku pejabat tinggi kerajaan. Masa depanku jauh lebih baik dari suaminya. Aku yakin dengan perhatian yang kuberi, dia akan menyukaiku." Batin Komandan Fan. Dia melirik ke arah Lynx yang terlihat sedang memeriksa jejak tersisa dari para pedagang di temani seorang wanita cantik.  "Sungguh pria beruntung. Hanya forging Qi tingkat dua tapi di kelilingi dua wanita cantik." Komandan Fan menggelengkan kepala menyaksikan perhatian Jelita kepada Lynx.

Leena melihat keramahan yang di berikan komandan Fan hanya diam dan bersikap dingin, sesekali matanya menatap ke arah Lynx dan Jelita di kejauhan. Tatapan tajamnya seringkali ditunjukkan kepada komandan Fan yang bersikap terlalu berlebihan, namun komandan Fan justru salah paham mengira Leena menyukainya.

"Kepala suku, apakah anda mendapatkan petunjuk?" Tanya Jelita. Dia sengaja meminta kepada Lynx dan Leena agar diijinkan untuk mengikuti mereka keluar dari desa karena merasa ingin melihat dunia luar.

Lynx dan Leena tanpa merasa curiga, mengajak Jelita keluar melalui gerbang di desa Linxi dan bertemu dengan Komandan Fan yang datang kembali setelah melapor ke pihak kerajaan.

Komandan Fan menceritakan reaksi pihak kerajaan yang murka setelah mengetahui perbuatan keluarga Baihuan dan memerintahkan pejabat-pejabat untuk mencari petunjuk mengenai keberadaan keluarga tersebut, selain itu raja memerintahkan memperkuat keamanan desa Linxi, karena desa tersebut menjadi salah satu tonggak kekuatan kerajaan Rihua.

Lynx dan Leena sendiri awalnya berniat bertanya kepada sekte Pedang Es, karena mereka juga memiliki konflik dengan keluarga Baihuan, namun saat mendapat berita ada sebuah desa yang dicurigai penduduknya di tangkap keluarga Baihuan, Lynx mengikuti komandan Fan memeriksa. Selain dia ingin tahu keadaan desa tersebut, dia juga khawatir karena Monrest berhubungan dengan keluarga Baihuan tersebut.

"Tidak ada jejak yang tertinggal tapi bisa dipastikan mereka semua di tangkap dan di kumpulkan di tempat ini sebelum akhirnya mereka membawanya." Lynx menunjuk sebuah tempat yang terlihat jejak bekas banyak orang berkumpul.

"Kepala suku, sepertinya komandan itu mengganggu Leena. Apakah aku perlu memberinya pelajaran?" Bisik Jelita sambil menatap ke arah komandan Fan.

"Biarkan saja. Leena tahu apa yang harus di lakukan. Selain itu dia juga akan menyesal sendiri kalau membuat Leena marah." Lynx membalas dengan tersenyum kecil. Didalam hatinya dia sebenarnya juga merasa cemburu karena seseorang berani terang-terangan menggoda istrinya.

"Aku ngga tahan melihat sikapnya yang seperti itu. Apa karena dia melihatmu memiliki Kultivasi rendah jadi meremehkan?" Kata Jelita masih tidak mau menyerah.

Lynx mengangkat kedua bahunya tanpa menjawab. Dia lebih memilih fokus mencari petunjuk tentang para pedagang yang hilang.

Tanpa di sadari, Jelita diam-diam memisahkan diri ke balik sebuah pohon dan mengeluarkan sebuah botol yang berisi serbuk kristal lalu menuangkan sedikit ke udara. Anehnya, serbuk tersebut bukannya jatuh ke tanah setelah di tuang, tetapi langsung terbang ke langit dan menghilang.

"Akhirnya aku punya kesempatan menghubungi Nyonya Mira. Aku sudah berkali-kali mencoba di desa Surya, tapi penghalang yang di buat Lynx membuat serbuk pemberian nyonya Mira tidak bereaksi. Akhirnya aku mempunyai alasan untuk keluar dan menghubungi Nyonya lagi." Batin Jelita.

